PAPERLESS CULTURE Kemajuan ataukah Kemunduran bagi Sejarah?

Apakah paperless culture itu? Dan seperti apa sebenarnya bentuk dan wujud yang disebut dengan paperless culture? Paperless culture adalah sebuah frase dalam bahasa asing yaitu tepatnya bahasa Inggris. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, paperless culture sepadan dengan “budaya nir-kertas”. Penjelasan daripada paperless culture adalah sebuah bentuk budaya baru dalam hal penulisan yang lahir pada era sistem teknologi informasi yang deras melanda seluruh penjuru dunia.

Penggunaan perspektif Filsafat Sejarah dalam masalah paperless culture  ini sangat menarik. Karena, sejarah adalah peristiwa yang berulang, dimana pengulangannya tersebut tidak sama persis dengan pengulangan-pengulangan yang terjadi kemudian. Sejarah memiliki pola. Penganalisisan masalah menggunakan sudut pandang ilmu Filsafat Sejarah akan menghasilkan sebuah analisis yang bersifat deskripatif. Sebuah analisis yang isinya adalah tulisan yang menulis mengenai sebuah peristiwa sejarah dari masa ke masa yang ditulis oleh penulis sejarah.

Dalam penggunaan pendekatan Filsafat Sejarah, kita dituntut untuk mengetahui bagaimana “arus bawah” dari satu atau sebuah peristiwa sejarah yang dimana sebenarnya kebanyakan orang hanya tahu “permukaannya” saja dari peristiwa sejarah tersebut(filsafat sejarah spekulatif). Dan juga kita dapat mengkritisi bagaimana suatu peristiwa masa silam dilukiskan atau digambarkan oleh seorang penulis (filsafat sejarah kritis).

Paperless Culture adalah hal yang baru ada di abad ke-21, meskipun sebenarnya embrio daripada paperless culture ini adalah dari sejak akhir abad ke-20, dimana penemuan dalam hal teknologi informasi, mulai menggeliat dan diproduksi secara massal setelah pembuatan komputer pertama pada era Perang Dunia II, yang dibuat untuk membantu proses sandi, kriptografi dan juga penghitungan.

Perkembangan selanjutnya ditandai pada periode sekitar awal tahun 2000an, dimana jaringan internet mulai ditemukan dan dikembangkan secara serius. Inilah periode paling penting dalam permasalahan paperless culture ini. Periode inilah masyarakat mulai tergerak dan konsumtif dalam penggunaan internet. Jaringan internet yang pada waktu itu merupakan hal yang baru dan relatif mahal, tidak menghalangi antusiasme masyarakat untuk mencobanya dan memilikinya.

Seperti yang kita ketahui apabila permintaan terhadap barang banyak, maka penawaran pun akan semakin banyak dan efeknya adalah harga barang dapat ditekan turun. Ini dapat dilihat pada periode tahun 2004-2009 dimana di Indonesia, khususnya di Jawa, warnet (warung internet) bertebaran dan menjamur. Periode inilah yang kemudian saya anggap sebagai “peluncur” budaya paperless culture.

Paperless Culture yang saya maksud adalah ketika orang-orang tidak lagi banyak menulis di kertas secara langsung, anak-anak muda dan mahasiswa tidak lagi dipusingkan untuk membaca, membolak-balik buku dan mencatat sebuah informasi yang penting, melainkan hanya tinggal “klik” pada internet dan lalu informasi tersebut sudah tersedia.

Tahun 2010 adalah tahun dimana media sosial mulai bermunculan dan itu lalu diterima secara massal oleh masyarakat Indonesia. Facebook , Twitter, Tumblr, Skype, Blogspot, WordPress dan media-media sosial lainnya mulai mewarnai gaya hidup banyak orang di Indonesia. Facebook dan Twitter adalah media sosial yang paling memberikan warna bagi masyarakat. Indonesia pernah dituliskan adalah negara terbesar ketiga dalam hal penggunaan Facebook dan Twitter di seluruh Dunia. Dapat dibayangkan seperti apa media sosial masuk kedalam gaya hidup dan lalu mempengaruhi orang-orang. Hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi atau private dapat diunggah ke media sosial dan dilihat semua orang tanpa batasan usia. Curhatan, kata-kata serapah, bahkan hingga pemalsuan data dapat terjadi di era Digital ini.

Semua orang sejak saat itu seperti tidak dapat hidup tanpa adanya jaringan internet. Dimanapun, kapanpun, internet selalu ada. Semua menggunakan internet secara bebas. Hal ini terjadi memang akibat adanya globalisasi. Akan tetapi yang membuat saya gelisah adalah, sebenarnya apa yang membuat Indonesia menjadi sangat konsumtif terhadap barang yang bernama jaringan internet.

Orang-orang sudah terbawa dan merasa diuntungkan oleh adanya jaringan internet ini, bahkan untuk hal yang sederhana seperti surat menyurat antar keluarga dan lainnya saat ini mungkin dapat digolongkan “terancam punah”. Bagaimana tidak terancam punah? Orang sekarang jika ingin menulis surat tidak perlu repot membeli perangko dan ke kantor pos untuk mengirim. Sekarang ada surat yang di-digitalisasi, yaitu e-mail (elektronik mail), prosesnya cepat dan tidak memakan biaya. Ya, asalkan ada jaringan internet. Lalu, tugas Pos sekarang apa jika hal ini terus terjadi? Terjadi pergeseran fungsi dari yang sebelumnya berurusan dengan surat dan menyurat, Pos Indonesia sekarang menjadi agen pengiriman barang, dan pembayaran kredit secara on-line. Ya, kembali jaringan internet lagi.

Sekarang, orang-orang sudah jarang menulis buku dan membaca buku. Mereka sekarang lebih banyak “bercuap-cuap” di media sosial, dibandingkan dengan menulis buku harian, atau penjualan buku juga koran mengalami penurunan yang lumayan, karena sekarang sudah ada teknologi untuk bisa membaca buku, dengan tidak harus membeli dulu, yaitu digitalisasi. Dimana buku secara digital hanya perlu untuk didownload secara cuma-Cuma, begitu pula dengan koran atau surat kabar, sekarang surat kabar juga sudah digitalisasi. Yang menjadi korban adalah para penerbit dan para pedagang buku juga koran yang selama ini dihidupi oleh “kertas-kertas” yang mereka jual. Lalu para Sejarawan dan para penulis, mereka harus membiasakan diri dalam mengganti media tempat menulis,apabila keadaan nir-kertas terjadi.

Dalam filsafat sejarah spekulatif terdapat 3 kajian hal,yaitu pola gerak sejarah,motor penggerak sejarah dan tujuan penggerak sejarah. Jika kita mengaitkan permasalahan pemanasan global ini dengan 3 kajian sejarah,maka kita akan mengetahui jika sebenarnya permasalahan ini tidak datang dengan tiba-tiba,tetapi ada unsur-unsur yang membentuknya.

Pola gerak sejarah dalam permasalahan ini dapat digolongkan menjadi 2, yaitu progressif (maju) atau regressif (mundur), tergantung bagaimana kita melihatnya. Kita dapat menggolongkannya sebagai pola gerak sejarah yang maju (progressif) jika kita melihat bahwa jaringan internet ini adalah unsur penting dalam kemajuan teknologi informasi dan dianggap sebuah “kebutuhan”. Pentingnya itu kita menganggap bahwa jaringan internet ini dibutuhkan untuk menjalin komunikasi dengan siapapun dimanapun, asalkan yang dihubungi juga memiliki jaringan internet. Selain itu kemajuannya adalah dalam segi tempo waktu dan jarak yang kini tidak lagi menjadi penghalang.

Akan tetapi, saya melihat sisi lain daripada kemajuan yang ada tersebut. Dalam kebudayaan menulis, menurut saya jaringan internet ini mempengaruhi sejarah. Di dalam Ilmu Sejarah, seperti yang sudah kita ketahui terdapat istilah no document, no history. Tidak ada dokumen, tidak ada sejarah. Dengan adanya jaringan internet yang terus merajalela ini, bukan tidak mungkin suatu saat nanti keadaan paperless benar-benar terjadi, dan sejarawan tidak lagi membuka-buka arsip atau buku tebal, melainkan membuka internet dan mencari arsip secara digital. Jika hal seperti itu terjadi, pergeseran juga akan merambat dalam proses metode sejarah, khususnya tahapan Metode. Proses Kritik kali ini tidak akan lagi ada kritik eksternal, karena ekstern–nya sama semua yaitu digital. Maka yang terjadi adalah kritik internal yang panjang, selain kontennya yang dikritik, proses pembuatannya menjadi konsen baru bagi kritik internal. Apakah ada rekayasa digital di dalam sumber? Ataukah relevan apa bila ada editan?

Meskipun para sejarawan mulai menemukan cara untuk melakukan Heuristik, apabila keadaan paperless culture itu terjadi, yakni dengan adanya wawancara (Sejarah Lisan), dan visual (Foto atau Film). Hal ini baik, berkenaan dengan penyelamatan sumber sejarah, akan tetapi jika keadaan nir-kertas terjadi, maka istilah yang diatas, yang selama ini dikenal dan dipegang teguh oleh Sejarawan karena sejarah memerlukan bukti dan fakta, harus dihapuskan. Karena sudah tidak sesuai jaman lagi, no document no history mungkin nanti berganti no digital file no history. Agak aneh menurut saya, tapi itu mungkin saja terjadi.Hal –hal seperti ini digolongkan dalam pola gerak sejarah yang regressif (mundur).

Sementara itu penggerak sejarah dari permasalahan Paperless Culture ini adalah faktor ekonomi, dan politik. Faktor ekonomi dapat dilihat bahwa jaringan internet menawarkan hal yang murah dan instan, akan tetapi di sisi lain mereka mengikat para konsumen dengan  hal tersebut. Sebagai contoh adalah, para pemilik media sosial menjual saham dengan harga tinggi. Sedangkan Faktor politik adalah, menurut saya media sosial yang ada saat ini adalah komponen intelejen (spionase) yang dikontrol oleh sebuah negara. Di media sosial semua data pribadi, seperti data diri, alamat rumah dan kantor, aktivitas yang terus diupdate melalui status, itu semua merupakan data yang berharga bagi Intelejen.

Adapun tujuan gerak sejarah dalam permasalahan ini adalah ada 2, yaitu untuk mengikuti arus jaman agar tidak ketinggalan (sebenarnya lebih terpaksa untuk mengikuti menurut saya) dan ada kepentingan dari pihak pihak yang memiliki dan mengkontrol jaringan internet ini.

Referensi

http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/category/fisafat-sejarah/

http://mumuhmz.wordpress.com/2011/09/21/pola-gerak-sejarah/